Senin, 11 Mei 2015



PERISAI HIDUP
(Chendri list)
Bagiku menulis ini lebih dari satu keadaan yang tak terbatas, ini adalah peristiwa yang terhalang oleh persimpangan. Aku adalah bentuk yang hampir menyerupai kamu, aku adalah pengetahuan yang terhalang oleh keangkuhan, aku adalah sisi lain dari dirinya. Dalam satu masa kau ketahui aku namun dalam keadaan lain hanya aku yang mengetahui dirimu.
Suatu malam malaikat kecil mendatanggiku, ia turun bari langit dengan menggunakan sayap yang begitu lebar dan berwarna putih, sayapnya tak seperti sayap yang pernah kita lihat. Sang malikat menghampiriku, di genggaman tanganya ada mambawa lentera dan satu buku kecil, ia mulai melangkah datangi aku dengan raut wajah yang begitu menawan, di belakang pundaknya terlihat cahaya terang mengikutinya, kini ia di depanku dan berkata,”Cinta tak akan mengambil apa-apa dari engkau dia juga tak memberi apa-apa dari engkau karna cinta hanya untuk cinta”.sekejap ia menghilang dari hadapanku, cepat sekali “labih cepat dari kilatan cahaya”. Tuhan menciptakan aku dan ia begitu berbeda, aku dapat melihatmu untuk saat ini namun ia tak begitu. Tuhan kini menyuruh hatiku untuk berlabuh di demaga hatinya, menyusuri jalan pantai untuk sampai kerumahmu, tapi aku baru tersadar betapa bodohnya diri ini , jalanpun aku tak tau mana mungkin aku dapat mengetuk pintu hatimu dan memberi salam sayang padamu. Kini aku masih di tepi pantai duduk memandang jagad raya yang begitu rupawan, kulihat angin yang elok bermain dengan ombak berlarilarian menuju kerinduanya, kerinduan dengan pantai asmara, namun tatkala sang ombak telah terbimbing oleh angin dan sampai ke bibir pantai lalu mendekapnya seketika itu pula ia lekas pergi kembali bergerumun menuju samudra luas.
Aku tak bisa berhadapan denganya, karna tubuhku akan menjadi kaku dan bergetar saat langsung melihatnya, kadang aku hanya melihat dari balik tirai yang ia adakan, kadang pula aku melihatnya dari kerudung putih ala mini. Satu waktu aku menghapus gambarnya yang aku peroleh dari kawanku, dengan pena hitam aku hitamkan gambarmu dan dengan bara api aku hanguskan sampai melebur manjadi abu, Namun apa yang ku dapat? Alam fikiranku slalu saja menghimpun wajahnya kembali dan menyuguhkannya lagi di benaku lebih cantik, rupawan dan sempurna. Alam kini menbuat satu kidung untukku, simfoni tentang aku, alam membuka kidung itu dan mendengarkanya padakau hanya dua waktu, saat di tepi pantai ketika fajar menyingsing dan kenbali pulang.
Kalau waktu bolehkan aku untuk berdekatan dengannya, akan ku gandeng lengannya dan berjalan telanjang kaki menuju cahaya itu, sambil ku lantunkan do’a
“Ya tuhan telah kau dekatkan aku padanya, aku kini tlah di hibur dengan cahaya matanya, seperti kau hiasi langit pada malam itu”. Kini aku hanya akan menunggu satu keajaiban yang tuhan beri kepadaku lalu memberi pengetahuaan kepadanya dengan menuntun hatinya untuk ketahuai aku.
Saat malam sosok samarnya slalu di sini berbaring, tersenyum dan berdendang di sampingku,lalu aku juga slalu menyanyikan lullabi untuknya untuk dirinya.
“Rebahkan tubuhmu di permadani ini , sampai esok tiba hingga simfoni mimipi menghampiriku, usah kau takut pada langit yang gelap karna aku akan salu menjaga dirimu. Sejenak ku beranjak pergi untuk redupkan lentera yang ada di bilik kamarku dan akan aku tutup tirai itu agar tubuhmu tak terjamah oleh angin malam, kini aku ada di sampingmu kembali, tidurlah di dadaku dan cobalah untuk memejamkan mata sedalm samudra cinta. Moga kini kau dapat tertidur lelep dan bermimipilah di taman yang indah wahai kekasih yang belum termilik”

Luasnya Akal

bumiManusia dalam fitrahnya sudah di bekali dengan segala sifat dan tingkah laku oleh Tuhanya. Sifat bukanlah merupakan sebuah wujud materi yang bisa di lihat dan di genggam, walaupun lebih mirip dengan alamiah, namun sifat merupakan sebuah cerminan diri sesorang yang muncul dan dilihat dalam tingkah laku. Sebuah bekal non materi yang dimiliki sesorang dalam mengarungi kehidupan sangatlah laur biasa, meski tidak semua orang dapat dan mampu mengolahnya. Manusia dinamakan sebgai makhluk yang paling sempurna yang dibekali oelh akal.
Produk-produk yang dihasilkan oleh akal merupakan sebuah hasil karya dari luasnya akal tersebut. Sering sekali kita temui, dari beberapa orang yang kita Tanya tentang dimana letaknya akal, sebagian besarnya akan menjawab dan menunjuk kearah kepala. Meskipun kebenarnya tidaklah mutlak akal masih menyimpan banyak tanda Tanya bagi manusia. Kita bayangkan apabila akal itu terletak di kepala kita betapa kecilnya akal ini. Kita tau gedung pencakar langit, pesawat terbang, kapal, hingga pyramid yang berada di gurun pasir, itu merupakan hasil dari akal yang lebih identik berada diotak kita. Bagi penulis akal sanagatlah luas dan tidak pernah terbatas berolah dalam hal materi namun ia terbatas dalam urusan non materi. Kita sadar betul manusia sesungguhnya punya nilai lebih untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat baik untuk dirinya maupun orang lain, namun hal itu menjadi sebuah benturan dalam diri manakal kasil karya yang ia akan buat di hadapkan dengan nilai materi yang menjadi tujuan utama sebuah hasil karya.
Akal yang kita miliki menunjang diri kita untuk membuka sebuah kebenaran kepada orang lain. Seperti Galileo menyatakan sekitar abad 17 bahwa bumi itu menggeliling matahari, namun hal itu di tentang oleh pihak gereja yang mempunyai pendapat bahwa matahari lah yang menggelilingi bumi dan menyuruh ilmuan tersebut untuk mencabut pernyataanya atau memilih untuk di baker hidup-hidup. Namun karna pendapat Galileo dapat di buktikan bukan hanya dengan rasional tapi juga empiris akhirnya pihak gerejapun menerima teorinya itu dengan berat hati. Dan teori Galileo itupun di gunakan para ilmuan sesudahnya hingga sekarang.
Seperti itulah yang menurut saya akal seharusnya berperan sangat besar, dalam membuka sebuah kebenaran baik sifatnya membenarkan atau mencari sebuah kebenaran tentang sesuatu. Seperti ayat-ayat tentang alam yang terdapat dalam Al-Quran yang dapat di buktikan dengan rasional dan empirisme.
Kekuatan akal setiap manusia sebenarnya saling membenarkan tentang sebuah kebenaran, karna segala induk akal manusia itu berasal dari yang Maha Benar.

Taubat

Taubat adalah suatu penyesalan , Seorang Syekh harus membawakan muridnya untuk membersihkan segala dosa dan kotoran qolbu agar setelahnya mereka dapat melakukan ibadah dengan setulus qolbunya .Taubat berarti sebuah waktu untuk berhenti melakukan larangan-larangan Allah, dan setelahnya itu dapat melakukan segala perintah Allah. Jadi pada waktu seorang hamba melakukan perintah Allah baik itu urusan dunia ataupun urusan akhirat, dia sudah bertaubat. Cara bertaubat adalah sedikitnya beristigfar, kemudian penyesalan atas perbuatan yang menjadikan orang itu berdosa karena kesalahan, dan berniat/ber’azam untuk tidak lagi melakukan perbuatan terlarang itu. Yang demikian disebut taubatan Nashua sebagaimana dalam Al Qur’an surat Al Tahrim ayat 8
ياَايَُهَا الَّذِيْنَ اَمَنُواْ تُوْبْواْ اِلَى اللهِ تَوْبَةً نَصُوْحًا عَسَى رَبُّكُمْ اَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَتِكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الاَنْهَرُ
Taubat adalah sebagai kunci untuk melakukan segala amalan , dan taubat juga sebagai pintu memulai ibadah, karena Allah tidak akan memberikan magfiroh kalau hambanya tidak memintanya atau tidak usaha untuk itu. Dosa yang tidak diampuni akan menjadi hijab untuk diterimanya atau diijabahnya do’a seseorang .
Dr Ahmad Amin dalam menguraikan dosa yang tidak diampuni yaitu syirik yang diambil dari surat Al Nisa ayat 48
اِنَّ اللهَ لاَيَغْفِرُ اَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَأ
membagi/mengurakan tentang syirik kepada 5 macam yaitu:1. Syirik istiqlal, yaitu menetapkan bahwa Tuhan ada dua atau lebih dan memiliki kekuasaan /tugas masing masing .seperti pada agama Majusi (Armuz pemberi kebaikan ,Ahriman memberi keburukan, )Hindu (Brahma, Wisynu, Syiwa ). 2. Syirk At Tab’idl artinya tuhan terbagi bagi, seperti agama Nasrani (Tuhan Bapak, Tuhan Ibu dan Tuhan Anak) .3. Syirk at Taqrib yaitu sesuatu benda yang disembah dapat menjadi alat pendekat /pengantar kepada Tuhan, misal menyembah patung, karena patung yang mendekatkan penyembahnya kepada Tuhan. 4 Syirkul Asbab yaitu menyandarkan kejadian kepada sesuatu sebab, missal karena kamu datang maka terjadi hujan.5. Syirk Agrodl yaitu menyandarkan sesuatu kepada sebuah tujuan, beramal karena bertujuan menghormati guru, berpuasa karena untuk mendapatkan sesuatu. Hal ini tidak boleh, sedang yang boleh adalah berpuasa karena Allah saja.

Arti Tarekat

Tarekat artinya yang jamaknya taroiq,secara etimo;ogis berarti : I.Jalan ,cara ,(alkaefiah) 2 .metode, sistim( al uslub) .3.madzhab,aliran,haluan( al madzhab); 4.keadaan (al halah) ;5 pohon kurma yang tinggi (an nahlah al towilah) ; 6 tiang tempat berteduh,tongkat paying(al midhollah);yang mulia,terkemuka dari kaum(syarif al kaum);8 goresal/garis pada sesuatu(al khot fi al syai).Menurut istilah tasawuf ,tarekat berarti perjalanan seorang.Salik (pengikut tarekat) menuju Tuhan dengan cara
Mensucikan diri atau perjalanan yang harus ditempuh oleh seseorang untuk dapat mendekatkan diri sedekat mungkin dengan Allah.
Sebagaijalan yang di tempuh untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, orang yang melakukan tarekat tidak dibenarkan meninggalkan syare’ at,bahkan pelaksanaan tarekat merupakan syare’at agama. Oleh karena itu ,melakukan tarekat tidakbisa sembarangan.Orang yang bertarekat harus dibimbing oleh guru yang disebut mursyid
(pembimbing )atau syekh .Syekh inilah yang bertanggung jawab terhadap murid-muridnya yang melakukan tarekat.Ia mengawasi murid-muridnya dalam kehidupan lahiriyah serta ruhaniyah dan pergaulan sehari-hari.Bahkan ia menjadi”perantara” antara murid dan Tuhan dalam beribadah. Karena itu seorang syekh haruslah sem purna suluknya, dalam ilmu syare’at dan hakekat menurut AlQur’an Sunnah dan Ijma’.
Syekh atau guru.
Dalam Ensiklopedi Islam disebutkan bahwa seorang guru atau syekh haruslah:
1.’Alim atau ahli dalam memberikan tuntunan kepada murid- muridnya dalam ilmu pengetahuan agama yang pokok.s
2Mengenali segala sifat-sifat kesempurnaan hati dan hal-hal yang berkaitan dengannya
3 Memiliki rasa belas kasih terhadap kaum muslimin ,terutama terhadap murid- muridnya
4 Pandai menyimpan rahasia murid- muridnya.
5 Tidak menyalah gunakan amanat murid-muridnya.
6Tidak menyuruh murid-muridnya kecuali terhadap sesuatu yang layak dikerjakannya
7Tidak terlalu banyak bergaul dan bercengkrama dengan murid- muridnya..
8.Mengusahakan segala ucapannya ,bersih dari pengaruh nafsu dan keinginan
9Lapang dada dan ikhlas.
10Memerintahkan berkholwat kepada murid yang memperlihatkan kebesaran dan ketinggian hati karena terlalu dekat bergaul dengannya.
11Memelihara kehormatan diri dan kepercayaan murid-muridnya..
12Memberikan petunjuk untuk memperbaiki keadaan murid-muridnya.
13Memperhatikan dengan sungguh-sungguh terjadinya kebanggaan rohani yang timbul pada murid-muridnya yang masih ddalam proses pendidikan..
14 Melarang murid-muridnya banyak berbicara dengan teman-temannya kecuali sangat penting.
15.Menyediakan tempat khalwat.
16.Menjaga diri agar murid-muridnya tidak melihat keadaannya dan sikap hidupnya yang dapat mengurangi rasa hormat mereka.
17.Mencegah muridnya banyak makan.
18.Melarang muridnya berhubungan dengan syeh tarekat lain,jika membahayakan
19 Melarang muridnya sering berhubungan dengan pejabat, yang dapat membangkit kan duniawi.
20 Menggunakan kata kata yang lembut, menarik dan memikat dalam hutbah-hutbahnya.
21.Segera memenuhi undangan orang yang mengundangnya dengan penuh perhatian
22Bersikap tenang dan sabar ketika duduk bersama murid-muridnya.
23.Memperhatikan akhlak yang mulia ketika murid-muridnya dating bertamu
24Memperhatikan keadaan murid-muridnya dengan menanyakan muridnya yang tidak hadir dalam pertemuan mereka
Untuk dapat melaksanakan tarekat dengan baik,seorang murid hendaknya mengikuti jejak dan melaksakan perintah dan anjuran yang diberikan mursyidnya. Ia tidak boleh mecari-cari keringanan dalam melaksakan amaliyah yang sudah dite tapkan dengan segala kekuatannya ia harus mengekang hawa nafsu untuk meng hindari dosa dan noda yang dapat merusak amal .Ia juga harus memperbanyak wirid dikir dan do’a serta memanfa’atkan waktu seefectif dan seefisien mungkin.
Untuk tidak melanggar hukum Agama ,murid harus belajar ilmu pengetahuan yang bekaitan dengan syari’at
Biasanya untuk melaksanakan aktivitas tarekat secara baik, pengikut tarekat secara baik, pengikut tarekat dimasukan kesebuah tempat husus yang dinamakan ribath(tempat belajar), zawiyah(tempat ibadah kaum sufi) atau khanqoh.Ditempat inilah amaliah tarekat dilaksanakan, baik berupa dzikir (ingatan yang terus tertuju kepada Alloh swt dengan lidah terus menyebut namaNya), ratib(mengucap la ilaha illaloh), pembacaan wirid-wirid atau syair-syair tertentu yang diiringi dengan bunyi-bunyian seperti rebana dan melakukan menari mengiringi wirid yang dibaca ,maupun berupa pengaturan napas yang berisi dzikir tertentu.
Tarekat banyak muncul pada abad ke 6 dan ke 7 Hijriyah ketika tasawuf menempati posisi penting dalam kehidupan umat Islam dan dijadikan sebagai filsafat hidup.Pada priode ini tasauf memiliki aturan-aturan, prinsip, dan sitem khusus, sedangkan sebelumnya taswuf dipraktekkan secara individual disana-sini tanpa adanya ikatan satu sama lain.Dalam perkembangan selanjutnya tarekat menjadi semacam organisasi atau perguruan dan kegiatanpun semakin meluas, tidak terbatas pada dzikir dan wirid atau amalan tertentu saja , tetepi juga pada masalah-masalah lain yang bersifat duniawi .Bahkan ada beberapa kelompok tarekat yang melibatkan diri dalam kegiatan politik, seperti tarekat Sanusiyah yang menentang penjajahn Italia di Libia, tarekat Tijaniah yang menentang penjajahan Perancis di Afrika utara, dan tarekat Syafawiyah yang melahirkan kerajaan Syafawy di Persia (Iran) .
Didalam dunia Islam tarekat berkembang pesat , sehingga besar jumlahnya yang cukup terkenal diantaranya ialah Tarekat Qodiriyah yang didirikan oleh Syekh Abdul Qodir Al Jaelani (470-561 H )Tarekat Rifa’iyah yang dinisbatkan kepada Syeh Akmad bin Aly Abul Abas Al Rifa’i (w 578 H /1183 M )Tarekat Suhrowadiyah yang dinisbatkan kepada Abu An Najib As Suhrowardi (490-563 H) dan anak saudaranya , Syihabuddin Abu Hafs Umar bin Abdullah As Suhrowardi (493-632 H );Tarekat Syadziliyah yang dinisbatkan kepada Abu al Hasan As Syadzily (w686 H), dan Tarekat Naqsyabandiyah yang dinisbatkan kepada Muhammad bin Muhamad Bahaudin Al Uwaesy al Bukhary Al Naqsyabandy (717-791 H ).
Daftar nama nama Tarekat dan para pendirinya.
No Nama Tarekat Pendiri Berpusat di
1 AMDHAMIYAH Ibrahim bin Aam DamaskusSuriah
2 AHMADIYAH Mirza Gulam Ahmad Qodia India
3 ALAWIYAH Abu Abas Ahmad bn Mstf Mostaganen Aljajair
4 ALWANIYAH Syekh Alwan Jiddah Arab
5 AMMARIYAH Ammar bn Senna Constantine
6 ASYAQIYAH Hasanuddin Istambul
7 ASYROFIYAH Asyrof Rumi Cin Iznik Turki
8 ABAIYAH Abdul Gani Adrianopel Turki
9 BAHEAMIYAH Haji Bahrami Ankara Turki
10 BAKRIYAH Abu Bakar Wafai Aleppo Suriah
11 BEKTASYI Bektasyi Veli Kir Sher Turki
12 BISTAMIYAH Abu Yazid Al Bistami Jabal Bistam Iran
13 GULSYANIYAH Ibrahim Gulsyani Cairo Mesir
14 HADDADIYAH Syh Abdlh bin Alwy Alhdd Hijaz Arab Saudi
15 IDRISIYAH Syekh Ahmad bin Idris Asir Arab Sa’udi
16 IGHITBASYIYAH Syamsudin Magnesia Yunani
17 JALWATIYAH Pir Uffadi Busro Turki
18 JAMALIYAH Jamaludin Istambul Turki
19 KABRAWIYAH Najmuddin Khurasan Iran
20 QODIRIYAH Abdul Qodir Jaelai Bagdad Iraq
21 HALWATIYAH Umar Al Halwaty Kaysani Turki
22 MAULAWIYAH Jalaludin Al Rumi Konya Anatoliya
23 MURODIYAH Murod Syami Istambul Turki
24 NAQSYABANDIYAH Muhd bn Muhd bn Uws Bhr Qasri Arifah Turki
25 NIZAMIYAH Muh Niyaz Lemnos Yunani
26 NIKMATALAHIYAH Syah Wali Nikmatillah Kirman Iran
27 NURBAKHSYIYAH Muh Nurbakhs Khurasan Iran
28 NURUDDINIYAH Nuruddin Istambul Turki
29 RIFAIYAH Sy Ahmad Rifa’i Bagdad Iraq
30 SADIYAH Sa’dudin Jibawy Damaskus Iraq
31 SAFAWIYAH Safiudin Ardebil Iran
32 SANUSIYAH Sidi Muh bn Aly As Sanusi Tripoli Libanon
33 SAQOTIYAH Sirry Saqty Bagdad Iraq
34 SIDDIQIYAH Kiyai Mukhtar Mukti Jombang Jatim
35 SINAN UMIYAH Alim Sinan Ummi Awali Turky
36 SUHROWARDIYAH Abu Najib Suhr & Syhbdn Bagdad Iraq
37 SUNBULIYAH Sunbul Yusuf Bulawi Istamnbul Turki
38 SYAMSIYAH Samsuddin Madinah Arab
39SYATARIYAH Abdullah Ayatar India
40 SYADZILIYAH Abul Hasan Aly As Syadzaly Makkah
41 TIJANIYAH Abul Abas At Tijany Fes Maroko
42 UMM SUNANIYAH Syekh Umm Sunan Istambul Turki
43 WAHABIYAH Muhammad bin Abd Wahab Nejd Aran
44 ZAINIYAH Zainudin Kufah Iraq
Dan masih banyak lagi yang belum terdata secara lengkap
Sumber : Ensi .
Landasan Tarekat . Landasan un tuk berpijak tarekat adalah Al Qur’an dan As Sunnah , serta hasil riyadoh Guru /Syekh tarekat itu sendiri yang kemudian diikuti oleh murid muridnya .Jadi semua kegiatan yang berlandaskan kepada Al Qur’an dan As Sunnah adalah benar dan dalam bahasa Arab disebut dengan mu’tabar /mu’taba roh. Apabila pelaksanaan itu tidak dilandaskan dua tersebut berarti tarekat itu adalah tidak mu’tabaroh, dan perkembangan ijtihad selanjutnya adalah sama dengan para fuqoha yaitu menggunakan qiyas dan ijma’, apalagi di Indonesia yang mayoritas ber Madhab As Syafi’i tentu saja berpegang kepadanya.Sekalipun tentunya ada beberapa hal lain yang mengikuti Madhab selain As Syafi’i. Karena dimanapun tidak akan murni 100% menggunakan satu Madhab .
Bagi seorang Mursyid boleh saja melakukan ijtihad-ijtihad tersendiri , dalam melaksanakan ubudiyah dan lain- lainnya selama hasilnya itu tidak berlawanan dengan pokok dari Al Qur’an dan As Sunnah ,missal seorang Mursyid memberikan pelajaran/memberikan talqinnya dengan cara ngobrol saja disuatu tempat kepada seorang muridnya .Kejadian hal ini tidak dipersalahkan karena itu adalah wewenang seorang Syekh, karena essensinya adalah memberikan pelajaran, walaupun ada hadits yang meberikan contoh talqin dengan cara duduk berhadapan dan lututnya di temu kan dengan lutut Syekhnya.
Seorang Mursyid tentunya sudah mendapat ijin (ma dzun) dari Mursyidnya dikala beliau menjadi muridnya , yang dalam ilmu hadits disebut tahammul (meneri ma) , setelah ma’dzun berubahlah beliau dapat memberikan kepada orang lain yang memintanya yang dalam ilmu hadits disebut ada (menyampaikan).Etikanya memang harus meminta , sesuai dengan Firman Allah suratAn Nahl ayat 43
فَاسْئَلُواْ اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لاَ تَعْلَمُوْنَ
Izin dalam hal ini berarti diberikan kewenangan untuk memberikan pelajaran tarekat karena tidak semua orang yang sudah belajar dapat memberikan kepada orang lain kacuali hanya memberikan penjelasan saja yang dalam penjelasan itu tidak mempunyai arti mengajarkan atau disebut mentalqin .Bahkan bagi seorang yang sudah bertarekat dapat diberikan penjelasan oleh yang seniornya dalam rangka membina sesamanya sebab Al Qur’an itu sendiri memberikan keleluasaan kepada umat Islam untuk mengambil contoh dari yang ada . surat Al Hasyar ayat 2
فَاعْتَبِرُوْا يَا اُوْلِى الاَلْبَاْبِ
Maka apabila seorang yang sudah tahu kemudian mengajarkan kepada orang lain tapa seizin Mursyidnya adalah tidak boleh .Dan Guru (Mursyid) berwenang untuk menentukan hal itu. Wewenang seperti itu tidak mempunyai arti bahwa seorang murid tidak boleh berijtihad sendiri, namun persoalan ini adalah hanyalah mengenai ketorekatan saja .Hal-hal yang lain silahkan saja berijtihad misal mengenai permasa lahan fikih dan lainnya , selain masalah yang sempit ini didalam pertalqinan .
Seorang Mursyid harus muttasil sanadnya sampai Rasulullah saw, apabila tidak muttasil berarti apa yang diberikannya itu kurang kuat, dan sebagaimana dalam syarat syarat Mursyid beliau harus pandai juga ilmu-ilmu lain , missal ilmu tauhid, ilmu fikih dan lain sebagainya, karena bagaimanapun mau beribadah yang betul betul khusyuk tentu saja ilmu tauhid dan ilmu fikihnya tidak ketinggalan .Kita sering mendengar suatu ungkapan yang dikemukakan Imam Malik
مَنْ تَفَقَّهَ وَلا َتَصَوَّفَ فَقَدْ تَفَسَّقَ وَمَنْ تَصَوَّفَ وَلاَتَفَقَّهَ فَقَدْ تَزَنْدَقَ وَمَنْ تَصَوَّفَ وَتَفَقَّهَ فَقَدْ تَحَقَّقَ
Artinya: orang memakai fikih tidak memakai tasauf itu adalah sama dengan orang fasik, demikian pula orang memakai tasauf tanpa memakai fikih itu adalah sama de ngan orang zindik, dan apabila memakai fikih disertai tasauf itu adalah yang man tap.(zindik= kotor/orang yang membuat penyimpangan dlm menafsirkan Qur’an)
Bertasauf disini adalah melakukan perbuatan ibadah sesuai dengan tuntunan ibadah, sedangkan beribadah caranya diatur oleh ilmu fikih, maka orang yang bertashauf sudah pasti melakukan aturan ibadahnya sesuai dengan tuntunan fikih . Tetapi tidak cukup diatur dengan fikih saja melainkan ilmu yang pertama kali harus dipelajari adalah ilmu tauhid (aqidah) ,karena tauhid menjadi landasan yang sangat essensi, karena bagaimanapun ibadah diatur dengan baik, tetap akan mudah diganggu oleh syetan, tetapi apabila ilmu tauhidnya sudah mantap pasti dapat membedakan mana yang sebenarnya dihadapi sewaktu beribadah, tidak dapat diikuti oleh syetan .
Memakai fikih dengan sebaik- baiknya itupun dalam beribadah tidak akan dapat menjamin yang terbaik, kalau tidak disertai dengan aqidah dan tashaufnya kare na bila tidak lengkap akan mudah juga diganggu oleh syetan . Sering kita dapati contoh yang dikemukakan oleh ulama-ulama, seorang yang betul-betul beribadah sesuai aturan fikih tetapi tidak memiliki ilmu tauhid dan tasauf, dia mudah digoda oleh syetan, misal seorang yang sedang tekun ibadah tiba-tiba datanglah syetan menhadap dalam bentuk seorang yang oleh si abid dianggap malaikat ; Karena memang dia mengaku malaikat dan mengatakan bahwa ia ibadahnya sudah dianggap cukup agar berhenti saja, si abid kemudian berhenti ibadahnya karena merasa sudah cukup dan sudah diterima .Tetapi kalau orang itu bertauhid dan bertashauf dengan memiliki ilmunya, dia beribadah sungguh-sungguh lalu datang syetan yang mengaku dia seorang malaikat dan memberi tahukan bahwa ibadahnya sudah dapat diterima maka si abid tidak akan percaya , bahkan syetan yang mengaku malaikat itu dilawannya,
Alangkah benarnya bila ia seorang ‘abid dengan dilengkapi ilmu aqidah dan tasaufnya , maka dia ibadahnya akan sangat mantap, tidak mudah atau bahkan tidak dapat diganggu seperti telah diterangkan .
Seorang guru Mursyid selalu membimbing muridnya kearah yang terbaik, diadakan latihan-latihan pendekatan diri kepada Allah dan diberikan ilmu-ilmu yang sangat dibutuhkan agar muridnya dapat mencapai maqom yang ditujunya. .Beliau merasa bertanggungjawabb atas asuhannya sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi saw
كُلُّكُمْ رَاْعٍ وَكُلُّ رَاْعٍ مَسْؤُلٌ عَنْ رَعِيَتِهِ
Artinya : kalian adalah pemimpin ,dan setiap pemimpin akan ditanya pertanggungja wabannya dari apa yang dipimpinnya .”
Seorang Syekh tidak henti-hentinya mengontrol muridnya yang banyak atau yang sangat banyak, karena beliau bertanggungjawab. Beliau akan memberikan peringatan kepada muridnya yang diketahui tidak mengerjakan tugasnya , dan membe rikan pelajaran tambahan untuk meningkatkan martabat atau maqom muridnya yang ta’at.Dengan segala kemampuan baik lahir maupun batin seorang Mursyid meman taunya sehingga muridnya berhasil .
Bagi Syekh torekat Qodiriyah dan Naqsyabandiyah yang sangat beliau perhatikan selain urusan yang berkaitan dengan pelajaran fikih juga dengan amalan-amalan yang berhubungan dengan aqidah serta ketashaufannya. .Dan yang sangat menojol adalah mengenai dzikru Allah, karena dengan dzikru Allah sebagai alat embersih qolbu, dan sebagai penyembuh penyakit qolbu, sehingga qolbu menjadi bersih dari segala kotoran

ISTIQAMAH DALAM IBADAH

Salah satu fitrah manusia adalah memliki sifat gelisah dan banyak keinginan (kemauan ) kedua fitraah tersebut tidak perlu dihilangkan, tetapi kegelisahan itu kita kendalikan sehingga menjadi wajar. Adapun keinginan –keinginan yang positif harus kita upayakan untuk meraihnya. Agar berhasil meraih sesuatu maka maka kita harus istiqamah. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT :
“ jikalau mereka tetap (istiqamah) dalam jalan (tarekat) itu, maka benar-benar kami akan memberi minum mereka air yang segar ( rizki yang banyak )”.
Maksud ayat diatas adalah jika kita sedang melakukan usaha, baik itu usaha masalah duniawi maupun itu masalah bersifat ukhrowi, maka kita harus melaksanakannya dengan langgeng atau istiqamah . Dengan demikian Insya Allah unsaha kita akan berhasil.
Dalam beribadah kepada Allah pun kita harus istiqamah, termasuk dalam mengamalkan tareqat sufiah. Selain harus istiqamah dalam mengamalkannya, kita juga harus menggunkan ilmunya, dan mematuhi aturan –aturan dan tata cara mengamalkan tarekat.bahkan kita harus mengadajkan evaluasi, untuk menggukur keberhasilan yang kita capai selama ini Hal diatas sesuai dngan Haadis Nabi yang artinya “sebaik-baiknya ilmu adalah ilmu yang diamalkan dan harus ikhlas”.Ketiga faktor inni ;ilmu, amal dan ikhlas, harus ada dalam ibadah.
Kita mengambil contoh tentanmg shalat. Untuk mengamalkannya kita harus tahu ilmunya atau peraturan- peraturannya dan tata caranya. Setelah sekian lamanya kita melaksanakannya ,lalu kita adakan evaluasi terhadap shalat kita. Allah berfirman dalam AL Quran Surat AL Ankabut ayat 45: “Sesungguhnya shalat itu mencegah perbuatan jahat (keji atau sifst-sifat maksiat) dan sifat sifat yang munkar”.Lalu bagaimanakah ahalat kita ? apakah setelah shalat kita masih suka menghimna oranglain, membicarakan orang lain dan lain-lain. Termasuk nilai apakah ahalat kita ? Sebagaimana yamh kita ketauhi bahwa shalat itu ada tiga tingkatan yaitu :
a. Sahalat secara Awam
b. Shalat secara Khawas
c. Shalat secara Khawasil-Khawas
Hal ini sebagaimana tingkatan dzikir yaitu awam , khawas dan khwasil khawas.
Yang dimaksud awam adalah secara bodoh, apa adanya tanpa pemikiran atau seenaknya saja. Sedangkan yang dimaksud dengan khawas adalah telah mulai merasakan dan ikut memikirkan bagimana ibadah serta bagaimana hasil dari ibadah itu. Dan yang dimaksud khawasil khawas adalah orang yang sudah ahli dalam menanggulangi keadaan –keadaan dalam ibadah., baik ibadah yang berhubungan dengan manusia (Habblumminannas)., maupun yanag berhungan Allah AWT (Hablumminalloh).
Jika dalam ibadah kita ada merasakan ada sesuatu yang tidak beres (tidak benar), maka kita jangan menyalahkan kepada orang lain, akan tetapi salahkan diri kita sendiri. Hal ini sebagaimana dalam perkataan Tanbih “…segala penderitaan pribadi itu adalah akibat dari amal perbuatan diri sendiri “. Selanjutnya kita harus ingat akan Fiman Allah dalam AL Quran surak ar ro’du ayat 11 yang artinya: Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehinggaa mereka mengubah keadaan yang ada dalam diri mereka sendiri.Oleh karena itulah, jika ada kesalahan kita haarus mengubahnya sendiri.
Adapun jika kita ada kesalahan dalam hati atau tidak ketentraman , maka kita harus berzikir. Hal ini sesuai denngan Hadis Nabi , yang artinya “sesungguhnya segala sesuatu itu ada pencuci ( pembersih)nya, sedangkan pencuci atau pembersih hati adalah dzikir (ingat hati) kepada Allah”.Firman Allah dalam AL Qur’an surah ar ra’du ayat 28 “(yaitu ) orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah, perhatikanlah ! hanya dengan mengingatAllah hati itu akan menjaditentram”
Hal ini berarti dengan berdzikir hati kita bisa mengurangi kekacauan jiwa atau kegoncangan fikiran.
Dikir itu sendiri ada bebarapa macam :
a. Dzikir yang d ucapkan dengan lisan
b. Dzikir yang diingatkan dalam hati
c. Dzikir yang dirasakan dalam hati
d. Dzikir yang tidak dirasakan lagi
Apabila dalam berdzikir kita masih mengalami kesulitan-kesuklitan ,maka tambahlah dengan mengamalkan riyadlah-riyadlah, misalnya :tidak tidur malam jumat(melek), selalu bangun malam dll. Selain itu dzkir harus diperbanyak dan tawajuhnya harus lebih lama .(K.H. Noor Anom Mubarrok)

Pengertian Bahtsul Kutub

Bahtsul kutub terdiri dari بَحْثُ dan اَلْكُتُبْ dua kata yang diidofahkan menjadi satu pengertian. بَحْثُ yang artinya membahas اَلْكُتُب yang artinya kitab-kitab, bila kita akan membahas kitab kitab berarti kita ingin mengetahui isi kitab –kitab yang kita bahas itu, namun apakah yang dimaksud mengetahui isi kitab kitab itu adalah mengetahui materi yang dibahas dalam kitab kitab itu ataukah mengetahui metoda penulisan kitab kitab itu, disini kita arahkan bahwa membahas kitab adalah membahas metoda penulisan atau kita sebut sistimatika penulisan kitab kitab itu dan memahami cara atau jalan pemikirannya pengarang kitab itu.
Mahasiswa kita harus mengetahui isi kitab-kitab, tetapi sangat sedikit yang mungkin akan mampu untuk dibawa mengetahui seluruh apa yang ditulis oleh penulis kitab itu, karena latar belakang basicnya sangat kurang, sedangkan kitab itu membahas pendapat yang oleh penulis sudah ketahui, baik dari menukil dari kitab lain atau yang penulis temukan sesuai dengan ide penulis itu sendiri.
Membahas kitab dapat diartikan membahas cara menulis atau sistimatika yang sudah mereka tulis sesuai selera mereka masing masing, dan dapat diartikan membahas pendapat penulis kitab itu sendiri sesuai dengan judul yang ada dalam kitab tersebut, dan dapat pula diartikan belajar membaca kitab kuning.
Untuk Fakultas Syari’ah IAILM PP Suryalaya ini yang jurusannya muamalah tentunya pembahasan materi dalam kitab itu harus disesuaikan dengan jurusannya yaitu muamalah beserta riwayat hidup para tokohnya Dan para maha siswa sebagai calon pemikir harus mengetahui juga cara berfikir para madhab, walaupun titik beratnya disesuaikan dengan kondisi, baik perpustakaan, maupun kondisi mahasiswa
Penulisan kitab berbeda beda sehingga diakhir masa sekarang ini berkem bang istilah kitab kuning, padahal semenjak ulama menulis kitab tidak ada istilah kitab kuning. Istilah kitab kuning ini muncul di ahir abad – abad ini, kalau ditelusuri asal mula istilah itu memang dapat dibenarkan, yaitu pada mulanya santri-santri di Pesantren kalau membeli kitab lebih suka kitab yang warna kertasnya kuning. Dimasa dulu kalau kitab kertasnya warna kuning kwalitasnya lebih baik dibanding kitab yang kertasnya warna putih.
Ulama salaf yang hidup pada masa sebelum tahun 400 H telah menulis kitab pada masa itu, demikian pula ulama yang setelahnya, dan cara penulisan mereka dalam bahasa Arab selalu tidak pakai tanda koma atau titik, batas yang disediakan hanyalah apabila memulai dengan judul KITAB, sambungannya berjudul BAB, disusul dengan judul FASAL. Tetapi walau demikian para santrinya mengerti karena mereka memahami dan menguasai ilmu alatnya seperti nahwu shorof balagoh dan lain lainnya.
Kitab menurut bahasa memiliki arti buku baik besar /tebal atau kecil /tipis, tetapi dalam istilah di Pesantren kitab dengan buku adalah berbeda. Kitab dalam istilah sehari-hari adalah sebuah buku yang berisikan pelajaran yang bertuliskan huruf Arab, dan biasa dipelajari di pesantren-pesantren atau di lembaga-lembaga pendidikan agama Islam, sedangkan buku biasa bertuliskan bukan huruf Arab walaupun dipelajari di pesantren atau di lembaga pendidikan Islam. Istilah ini ternyata bisa berkembang yaitu walaupun bertuliskan huruf Arab kadang kadang disebut buku juga tetapi yang biasa disebut kitab tidak berlaku untuk disebut buku.
Dalam pencetakan kitab-kitab zaman dulu yang lazimnya disebut kitab klasik atau kitab kuning memiliki sistimatika penulisan tersendiri.Sistimatika tersebut adalah sebagai berikut: Judul besarnya Kitab, anak judulnya Bab, anak bab fasal, dari fasal ini memiliki anak anak lagi seperti Far’un, Faidatun, Tanbihun dll. Dalam satu buku berisikan beberapa kitab, misalnya Kitabut Toharoh, Kitabun Nikah, Kitabul Jinayah Ada yang satu kitab berisikan memang satu kitab misal Kitabul Faroid, yang lebih. Format penulisan seperti itu biasanya ada yang memuat matan dan syarah (penjelasan ) ada yang memuat syarah dan hasyiyah (perluasan pembahasan) ada yang memuat hamisy, ada juga yang memuat ta’liqot.
Pada umumnya satu buah kitab (buku) muatannya satu fan ilmu(satu disiplin ilmu), misal tentang fikih, tentang aqidah, tentang tasauf jadi dari kitab-kitab yang ada dalam buku tersebut semuanya tentang satu fan, demikian juga yang membahas shorof dan nahu, bagian yang di pinggirnya atau yang dibawahnya juga tentang shorof dan nahu, dan begitulah seterusnya.
Isi atau kandungan mereka dalam menyusun materi sangat beragam sesuai fan dan selera masing masing serta keahliannya masing masing. Misal mengenai pendapat pendapat ulama yang berbeda beda, dengan istilah muqoronatul madzahib, atau mengenai pilihan kesenangan madhabnya sehingga berupa timbangan atau mizan dari macam macam pendapat yang mereka tahu serta alasan alasannya masing masing. Ada juga yang mengumpulkan atau menghimpun masalah masalah yang untuk ditarjih.
Dalam mata kuliah bahsul kutub disini tidak diarahkan untuk muqoronah atau tarjih melainkan untuk mengetahui metoda penulisan yang mereka susun dimasa lampau yang di istilahkan dengan salaf dan masa sekarang yang diistilahkan holaf. Batasan salaf dengan kholaf sesuai penjelasan bapak-bapak ahli sejarah adalah berisikan sejak sahabat sampai tahun 300 Hijriyah dan setelah itu sampai tahun 400 hijriyah disebut kholaf, masa selanjutnya disebut masa taqlid, Walau demikian boleh saja ulama yang menulisnya dimasa kholaf tetapi metoda penulisannya menggunakan metoda salaf.
Pencetus istilah salaf dan kholaf Ibnu Taimiyah, dan ulama yang olehnya digolongkan salaf adalah para sahabat Nabi para tabi’in dan tabi’it tabi’in sampi tahun 300 H, mereka adalah a.l. Abu Bakar Siddiq, Umar bin Hottob, Usman bin ‘Afan, ‘Ali bin Abi Talib, dan sahabat Nabi yang lainnya; yang kedua masa tabi’it tabi’in seperti Ibnu Musyayyab, Hasan Al Bishri, Lais, Abu Hanifah (imam Hanafi), imam Malik, imam Syafi’i, imam Hambali, Buhori, Muslim dan pengarang Kutubus Sittah.
Orang orang yang dianggap tokoh ajaran gerakan salafiyah atau yang disemangati dengan ajaran salaf sesudah Ibnu Taimiyah adalah Ibnu Qoyyim al Jauziyah, Muhammad bin Abdul Wahab. Semangat ini adalah untuk kembali pada Al Qur’an dan Sunnah serta berijtihad, yang dilanjutkan oleh Jalaluddin al Afgani, Syekh Muhammad Abduh, dan Syeh Muhammad Rasyid Rido.

Mutiara Hikam

علامة الاعتماد نقصان الرجاء…..
Kalimat inti :
I’timad : nyender
Nuqson Roja
Zalal
Dua hikmah antara mencari dunia dan akherat harus nyetel, mencari dunia jangan habis-habisan, banyak ibadah jangan lupa mencari dunia.
282 Hikam adalah pengalaman syaikh Ibnu Athoillah As-Sukandari – Di Cairo. Hikam itu obat…(syifa) sebagai [praktek)
Yang dimaksud : Kasus Lapangan : harus faham permasalahan, seperti ibarat mobil mati yang harus di benarkan adalah mesinnya bukan knalpotnya. Begitu juga di lapangan tentang penyakit masyarakat. Dua kunci masyarakat.
صنفان من الناس اذا صلحا صلح كله واذا فسدا فسد كله العلماء والعمراء
Kasus Lapangan I : Hikam ini akan menjadi kunci bagi orang yang melakukan perjalanan menuju Allah, tidak akan terpakai bagi orang yang tidak meniti perjalanan kepada-Nya (salik) seperti.
Manusia di cipta oleh Allah dalam keadaan sempurna, terus diberi akal, nafsu, syaithan. Termasuk seluruh anggauta badan. Tujuan diberikan semuanya bagus. Dengan akal menjadi skills, dengan nafsu menjadi pendorong (ibarat mesin), syaithan untuk menguji kemampuan diri (dengan mengujinya). Bagi ahli tasawwuf semuanya manfaat. Sering nafsu mengalahkan akalnya, syaithan mengalahkan qolbunya, sehingga terpeleset (sesat).—Zalal (perintah Allah tidak dikerjakan, dan larangan di lakukan). Jadi belajar thoreqot itu jangan menunggu bersih dari kekurangan, justeru belajar thoreqot itu untuk menjauhkan diri dari kesalahan.
Banyak Ulama yang memandang thoreqot jelek, karemna kurang semangat mencari kebenaran. Padahal ia tidak sadar sering meminta barokah kepada para Aulia makam-makam ziarah, seperti makan mau tetapi nasi anti (tidak mau). Ini pemikirannya. Banyak yang terjadi orngan yang melakukan zalal itu kemudian putus asa, (merasa salah terus dan putus asa). Orang yang melakukan perjalanan kepada Allah adalah kita, jangan menunggu umur 40 tahun untuk melawan syaithan, dari 15-40 apakah harus di serahkan kepada syaithan, tetapi belajar dzikir itu dari orok. (belajar dzikir setelah umur 40 tahun – pemikiran darimana), thoreqot mikung (Thoreqot bagus, ibadah syariat goreng patut) Micung (fiqih jago ashar jam lima terus). Harus keduanya.
Salik… apabila diangkat menjadi murid (talqin) ruhani langsung hebat. (tidak). Mari tafakkur, ada orang yang melakukan zalal sadar ada juga yang melakukan zalal tidak sadar.
Karena urusan politik NU benci terhadap Thoreqot
Dalam perjalanan menuju Allah banyak yang Zalal (berlaku maksiat) seperti : malas, ghibah, sholat tidak tepat waktu, tidak berjamaah… maka hitunglah sifat jalal pada diri kita : tarkul makmurot, ijtinabul manhiatn (melaksanakan yang di larang dan mengerjakan yang di larang). Calon orang sholeh yakni dapat mengontrol diri mulai sekarang bahwa saya zalal.
Jangan putus asa walaupun kita telah mengontrol diri dari jalal tetapi masih zalal juga.
Pembahas I : baik dan jelek hakikat dari Allah
Banyak orang yang beramal (salik), malah sombong dengan amalnya, merasa sampai ibadahnya karena amalnya bukan karena sifat rohman rohimnya Allah , yang sampai itu bukan karena amalnya, bagi orang salik sampai kepada Allah dengan dijemput oleh Allah : yaa ayatuhannafsul muthmainnah………… karena orang yang akan di jemput oleh Allah adalah orang yang telah capek dengan amal perbuatan baik.
Dimana kita melakukan salah
Artinya Berjuang menjauhkan maksiat (zalal) dengan sungguh-sungguh, apabila terpeleset pada jalal, cepat kembali (taubat) —– berupaya terus memperbaiki diri walaupun terus terpeleset. Dengan dzikir setiap bakda sholat tujuannya untuk terus memperbaiki diri dari kesalahan…jangan putus asa Allah lautan ampunan.
Diantara tanda (ciri) orang terlalu mengandalkan kepada Amalnya dal;am menuju Allah, dan tipis/kurang pengharapan maka ketemu dengan terpelesat.
(———jatuh bangun)
Kyai yang rajin tahajud/ibadah dengan istiqomah itu berjuang dulu melawan segala macam nafsu dan syaithan— tarik menarik – (jangan instan, hanya ingin baik(istiqomah) tiba-tiba. Tetapi harus terus berjuang dulu…maju jangan putus asa)
Kunci 2 :
ارادتك التجريد……..الهمة العالية
Kalimat inti : Tajrid, Iqomatillah, Asbab, Syahwatil Khofiyah,
Tajrid : lepas dari upaya (mencapai sesuatu)
Iqomatillah : Keadaan diri
Asbab : sebab-sebab (adanya sesuatu karena sebab)
Rumus-rumus jadi waliyulloh – dzikir (sirrul Asror)- wali adalah orang yang bertaqwa sempurna dari dulu, sekarang dan masa yang akan datang.
Sufi jangan diam saja di Goa saja, kasian umat tidak di urus (KH. Zein ZA. Bazul Asyhab)