PERISAI HIDUP
(Chendri list)
Bagiku
menulis ini lebih dari satu keadaan yang tak terbatas, ini adalah
peristiwa yang terhalang oleh persimpangan. Aku adalah bentuk yang
hampir menyerupai kamu, aku adalah pengetahuan yang terhalang oleh
keangkuhan, aku adalah sisi lain dari dirinya. Dalam satu masa kau
ketahui aku namun dalam keadaan lain hanya aku yang mengetahui dirimu.
Suatu
malam malaikat kecil mendatanggiku, ia turun bari langit dengan
menggunakan sayap yang begitu lebar dan berwarna putih, sayapnya tak
seperti sayap yang pernah kita lihat. Sang malikat menghampiriku, di
genggaman tanganya ada mambawa lentera dan satu buku kecil, ia mulai
melangkah datangi aku dengan raut wajah yang begitu menawan, di belakang
pundaknya terlihat cahaya terang mengikutinya, kini ia di depanku dan
berkata,”Cinta tak akan mengambil apa-apa dari engkau dia juga tak
memberi apa-apa dari engkau karna cinta hanya untuk cinta”.sekejap ia
menghilang dari hadapanku, cepat sekali “labih cepat dari kilatan
cahaya”. Tuhan menciptakan aku dan ia begitu berbeda, aku dapat
melihatmu untuk saat ini namun ia tak begitu. Tuhan kini menyuruh hatiku
untuk berlabuh di demaga hatinya, menyusuri jalan pantai untuk sampai
kerumahmu, tapi aku baru tersadar betapa bodohnya diri ini , jalanpun
aku tak tau mana mungkin aku dapat mengetuk pintu hatimu dan memberi
salam sayang padamu. Kini aku masih di tepi pantai duduk memandang jagad
raya yang begitu rupawan, kulihat angin yang elok bermain dengan ombak berlarilarian
menuju kerinduanya, kerinduan dengan pantai asmara, namun tatkala sang
ombak telah terbimbing oleh angin dan sampai ke bibir pantai lalu
mendekapnya seketika itu pula ia lekas pergi kembali bergerumun menuju
samudra luas.
Aku tak bisa berhadapan denganya, karna tubuhku
akan menjadi kaku dan bergetar saat langsung melihatnya, kadang aku
hanya melihat dari balik tirai yang ia adakan, kadang pula aku
melihatnya dari kerudung putih ala mini. Satu waktu aku menghapus
gambarnya yang aku peroleh dari kawanku, dengan pena hitam aku hitamkan
gambarmu dan dengan bara api aku hanguskan sampai melebur manjadi abu,
Namun apa yang ku dapat? Alam fikiranku slalu saja menghimpun wajahnya
kembali dan menyuguhkannya lagi di benaku lebih cantik, rupawan dan
sempurna. Alam kini menbuat satu kidung untukku, simfoni tentang aku,
alam membuka kidung itu dan mendengarkanya padakau hanya dua waktu, saat
di tepi pantai ketika fajar menyingsing dan kenbali pulang.
Kalau
waktu bolehkan aku untuk berdekatan dengannya, akan ku gandeng
lengannya dan berjalan telanjang kaki menuju cahaya itu, sambil ku
lantunkan do’a
“Ya
tuhan telah kau dekatkan aku padanya, aku kini tlah di hibur dengan
cahaya matanya, seperti kau hiasi langit pada malam itu”. Kini aku hanya
akan menunggu satu keajaiban yang tuhan beri kepadaku lalu memberi
pengetahuaan kepadanya dengan menuntun hatinya untuk ketahuai aku.
Saat
malam sosok samarnya slalu di sini berbaring, tersenyum dan berdendang
di sampingku,lalu aku juga slalu menyanyikan lullabi untuknya untuk
dirinya.
“Rebahkan
tubuhmu di permadani ini , sampai esok tiba hingga simfoni mimipi
menghampiriku, usah kau takut pada langit yang gelap karna aku akan salu
menjaga dirimu. Sejenak ku beranjak pergi untuk redupkan lentera yang
ada di bilik kamarku dan akan aku tutup tirai itu agar tubuhmu tak
terjamah oleh angin malam, kini aku ada di sampingmu kembali, tidurlah
di dadaku dan cobalah untuk memejamkan mata sedalm samudra cinta. Moga
kini kau dapat tertidur lelep dan bermimipilah di taman yang indah wahai
kekasih yang belum termilik”
RSS Feed
Twitter
22.28
Unknown
0 komentar:
Posting Komentar